Senin, 15 Agustus 2016

Senjaku Bunga Ilalang

Senjaku Bunga Ilalang

Senja di musim kering

Terbang bunga ilalang menghampirimu

Ingap di rambut

Musim kemarau berkabut

Aku menitih hingga petang

Bersamamu

Jelaskan hari ini

Merah dan merah

Aku menantinya malam

Ujung senja itu

Bingkai tubuh letih

Matahari pecah bias

Serpihan terbuang pada gelisah

Merangkul siang tarian duka

Sepanjang hiruk pikuk sebagaian nikmat

Matahariku lelah

Meratap dan membenci waktu ukir garis tangan

Iklas

Bunga ilalang terbang mencari rembulan

Bujur dan lintang haluan

Tingkah umat sesat cari Tuhan

 Aku yang tirani dzikir panjang

Mengikuti openi matahari

Penantian

Disenja berbingkai perak tubuh

Aku bukan penakluk

Senja akan  lewat

Kubangan kegelapan

Lorongan jangka waktu taktentu

Berkumpul di langit

Purnama datanglah

Bintang berhiaslah

Untukku

Bunga ilalang terbanglah bersama debu

Senja merah tembaga

Di musim itu



Muarabungo 2012

Rumah Gadang Di Simpang Ujung

Alam ranah minangkabau


Rumah gadang anak orang minang

Sepasang penghuni tua sepi menunggu yang pulang

Darat air mandi di tapian

Pulanglah nak

Pulanglah saudara


Rumah gadang panenan gadis

Menunggu junjung kasih

Pecahlah gelas hilang kesucian

Di rampas orang lalu

Mencari jati diri seorang bundo Kandung

Penunggu rumah bertiang sembilan


Tiang pusaka bertinta emas

Rapuh di makan rayap

Tonggak tuo tampat basanda panggulu

Perintah anak kemenakan

Gantilah dengan benalu

Nak cari di hutan larangan


Rumah gadang berukir

Kaluk paku

Orang bunian sinayang

Raja mahkota

Ambil dulang berselawat

Surau tinggal tak berdzikir

Ulama dan umara saling bersaut sapa

Tak berdosa dan pencari dosa


Negeri panuh dosa

Bencana silih berganti

Rumah gadang carikan puti dayang sudah

Gunakan pada hamba saluk deta

Keris pusaka di jarah orang

Tanah leluhur di tergadai, terjual




Gurun 04102011

Tarian Jiwa III(Malam itu aku denganmu wahai wanitaku)

Serpihan puisi perempuan




Tercium hangat di batas malam ini

Tatap mataku terurai menyentuh

Seribu rentak nista

Terhenti dengan sebuah pesonamu

Di remang cahaya bilik

Dirimu hiasannya untukku

Dalam bunga Hati

Pada sisi ladang mengalir deras darahku

Pada sungai di tubuhmu

Dan pori-pori mengalir tenaga

Sentuhan kita berdua

Ukurlah langit bilik kita

Dan helaian rambutmu aku hitung tidak terhenti

Biar aku eja sampai fajar

Sayangku lihatlah dari tingkap

Bintang-bintang antarkan kita di pagi itu

Resah dan gelisahmu

Telah aku siram dengan tarian-tarianmu

Di rongga tulang kita

Wahai wanitaku

Gelombang gelora di dalam tubuhku

Aku bertarung dengan berahi

Pada bintang gemerlap aku menatap

Pada suara desahmu aku mengadu

Gejolakmu bangkit bulu romaku

Hawa asmara dari mulut

Pada Keibuan

Aku tertatih di bingkai-bingkai tubuh

Dari simbol tak berperisai

Putih tulangku kau jaga aku

Dengan sentak manja syairmu

Membui pesonamu

Asmaramu adalah pelantamu

Yang berhiasan manik manik

Corak kain di peraduanmu

Berahi aku teguk pada bait sajakmu

Hilang di masa yang gelap pada malam

Aku yang bersenandung

Dengan ramah gaibmu

Adalah jati diri aku lupa

Rentak kaki dengan gerencing

gelang kaki, sepuhan perak

Semarak malam kita

Bertatah dada di bunian syair di ujung malam

Pelatuk aku sunyi

Aku tersesat di malam itu

Di kamarmu yang remang-remang

Matamu bercahaya

Rindu dendam terfokus

Dari rikmenya

Seperti gurindam yang berseloka

Di pentas malam kita



Gurun 23092012

TARIAN JIWA II

kepingan sajak perempuan



putih tulangku kau jaga
dengan sentak syair
bak gadis baru ahkir balih
membui pesona

asmaramu adalah pelanta
berhiasan kembang berduri
corak kain di peraduanmu
teguk pada bait sajak

hilang di masa gelap pada malam
aku yang bersenandung
dengan ramah gaib
jati diri aku lupa

rentak kaki dengan genta
gelang sepuhan perak
semarak malam kita jeput
bertitah dada di bunian syair di ujung malam
sunyi mengeja asa


Tebo 2012

Tarian Jiwa

Di pentas aku

Batas malam ini berbingkai teralis sukma

Tatap mata pada keujung rambut terurai menyentuh tubuh kita

Seribu rentak nista langkah kita

Terhenti dengan sebuah pesonamu

Di remang cahaya kamar

Dirimu hiasannya

Pada sisi ladang mengalir deras darahku

Pada sungai di tubuhmu

Dan pori-pori mengalir energi

Sentuhan kita berdua

Ukurlah langit kamar kita

Dan helaian rambutmu aku hitung satu persatu

Biar aku eja sampai fajar

Sayangku lihatlah dari jendela

Bintang-bintang antarkan kita di pagi itu

Resah dan gelisah

Telah aku siram dengan tarian-tarianmu

Di rongga tulang kita

Engkau menikmatinya di sel-sel darahmu

Wahai hambaku

Kemarilah

Tidurlah didekatku

Tentang ladang kita

Yang subur

Bermimpilah untuk kita


Gurun 19082010