Senin, 15 Agustus 2016
Rumah Gadang Di Simpang Ujung
Alam ranah minangkabau
Rumah gadang anak orang minang
Sepasang penghuni tua sepi menunggu yang pulang
Darat air mandi di tapian
Pulanglah nak
Pulanglah saudara
Rumah gadang panenan gadis
Menunggu junjung kasih
Pecahlah gelas hilang kesucian
Di rampas orang lalu
Mencari jati diri seorang bundo Kandung
Penunggu rumah bertiang sembilan
Tiang pusaka bertinta emas
Rapuh di makan rayap
Tonggak tuo tampat basanda panggulu
Perintah anak kemenakan
Gantilah dengan benalu
Nak cari di hutan larangan
Rumah gadang berukir
Kaluk paku
Orang bunian sinayang
Raja mahkota
Ambil dulang berselawat
Surau tinggal tak berdzikir
Ulama dan umara saling bersaut sapa
Tak berdosa dan pencari dosa
Negeri panuh dosa
Bencana silih berganti
Rumah gadang carikan puti dayang sudah
Gunakan pada hamba saluk deta
Keris pusaka di jarah orang
Tanah leluhur di tergadai, terjual
Gurun 04102011
Tarian Jiwa III(Malam itu aku denganmu wahai wanitaku)
Serpihan puisi perempuan
Tercium hangat di batas malam ini
Tatap mataku terurai menyentuh
Seribu rentak nista
Terhenti dengan sebuah pesonamu
Di remang cahaya bilik
Dirimu hiasannya untukku
Dalam bunga Hati
Pada sisi ladang mengalir deras darahku
Pada sungai di tubuhmu
Dan pori-pori mengalir tenaga
Sentuhan kita berdua
Ukurlah langit bilik kita
Dan helaian rambutmu aku hitung tidak terhenti
Biar aku eja sampai fajar
Sayangku lihatlah dari tingkap
Bintang-bintang antarkan kita di pagi itu
Resah dan gelisahmu
Telah aku siram dengan tarian-tarianmu
Di rongga tulang kita
Wahai wanitaku
Gelombang gelora di dalam tubuhku
Aku bertarung dengan berahi
Pada bintang gemerlap aku menatap
Pada suara desahmu aku mengadu
Gejolakmu bangkit bulu romaku
Hawa asmara dari mulut
Pada Keibuan
Aku tertatih di bingkai-bingkai tubuh
Dari simbol tak berperisai
Putih tulangku kau jaga aku
Dengan sentak manja syairmu
Membui pesonamu
Asmaramu adalah pelantamu
Yang berhiasan manik manik
Corak kain di peraduanmu
Berahi aku teguk pada bait sajakmu
Hilang di masa yang gelap pada malam
Aku yang bersenandung
Dengan ramah gaibmu
Adalah jati diri aku lupa
Rentak kaki dengan gerencing
gelang kaki, sepuhan perak
Semarak malam kita
Bertatah dada di bunian syair di ujung malam
Pelatuk aku sunyi
Aku tersesat di malam itu
Di kamarmu yang remang-remang
Matamu bercahaya
Rindu dendam terfokus
Dari rikmenya
Seperti gurindam yang berseloka
Di pentas malam kita
Gurun 23092012
TARIAN JIWA II
kepingan sajak perempuan
putih tulangku kau jaga
dengan sentak syair
bak gadis baru ahkir balih
membui pesona
asmaramu adalah pelanta
berhiasan kembang berduri
corak kain di peraduanmu
teguk pada bait sajak
hilang di masa gelap pada malam
aku yang bersenandung
dengan ramah gaib
jati diri aku lupa
rentak kaki dengan genta
gelang sepuhan perak
semarak malam kita jeput
bertitah dada di bunian syair di ujung malam
sunyi mengeja asa
Tebo 2012
putih tulangku kau jaga
dengan sentak syair
bak gadis baru ahkir balih
membui pesona
asmaramu adalah pelanta
berhiasan kembang berduri
corak kain di peraduanmu
teguk pada bait sajak
hilang di masa gelap pada malam
aku yang bersenandung
dengan ramah gaib
jati diri aku lupa
rentak kaki dengan genta
gelang sepuhan perak
semarak malam kita jeput
bertitah dada di bunian syair di ujung malam
sunyi mengeja asa
Tebo 2012
Tarian Jiwa
Di pentas aku
Batas malam ini berbingkai teralis sukma
Tatap mata pada keujung rambut terurai menyentuh tubuh kita
Seribu rentak nista langkah kita
Terhenti dengan sebuah pesonamu
Di remang cahaya kamar
Dirimu hiasannya
Pada sisi ladang mengalir deras darahku
Pada sungai di tubuhmu
Dan pori-pori mengalir energi
Sentuhan kita berdua
Ukurlah langit kamar kita
Dan helaian rambutmu aku hitung satu persatu
Biar aku eja sampai fajar
Sayangku lihatlah dari jendela
Bintang-bintang antarkan kita di pagi itu
Resah dan gelisah
Telah aku siram dengan tarian-tarianmu
Di rongga tulang kita
Engkau menikmatinya di sel-sel darahmu
Wahai hambaku
Kemarilah
Tidurlah didekatku
Tentang ladang kita
Yang subur
Bermimpilah untuk kita
Gurun 19082010
Langganan:
Postingan (Atom)