Tarian Jiwa III(Malam itu aku denganmu wahai wanitaku)
Serpihan puisi perempuan
Tercium hangat di batas malam ini
Tatap mataku terurai menyentuh
Seribu rentak nista
Terhenti dengan sebuah pesonamu
Di remang cahaya bilik
Dirimu hiasannya untukku
Dalam bunga Hati
Pada sisi ladang mengalir deras darahku
Pada sungai di tubuhmu
Dan pori-pori mengalir tenaga
Sentuhan kita berdua
Ukurlah langit bilik kita
Dan helaian rambutmu aku hitung tidak terhenti
Biar aku eja sampai fajar
Sayangku lihatlah dari tingkap
Bintang-bintang antarkan kita di pagi itu
Resah dan gelisahmu
Telah aku siram dengan tarian-tarianmu
Di rongga tulang kita
Wahai wanitaku
Gelombang gelora di dalam tubuhku
Aku bertarung dengan berahi
Pada bintang gemerlap aku menatap
Pada suara desahmu aku mengadu
Gejolakmu bangkit bulu romaku
Hawa asmara dari mulut
Pada Keibuan
Aku tertatih di bingkai-bingkai tubuh
Dari simbol tak berperisai
Putih tulangku kau jaga aku
Dengan sentak manja syairmu
Membui pesonamu
Asmaramu adalah pelantamu
Yang berhiasan manik manik
Corak kain di peraduanmu
Berahi aku teguk pada bait sajakmu
Hilang di masa yang gelap pada malam
Aku yang bersenandung
Dengan ramah gaibmu
Adalah jati diri aku lupa
Rentak kaki dengan gerencing
gelang kaki, sepuhan perak
Semarak malam kita
Bertatah dada di bunian syair di ujung malam
Pelatuk aku sunyi
Aku tersesat di malam itu
Di kamarmu yang remang-remang
Matamu bercahaya
Rindu dendam terfokus
Dari rikmenya
Seperti gurindam yang berseloka
Di pentas malam kita
Gurun 23092012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar